Suap Mengalir Ke Gubernur Sumsel

Dakwaan Kasus Proyek Wisma Atlet Sea Games

JAKARTA – Sidang kasus penyuapan proyek wisma atlet Sea Games 2011 di Palembang mulai digelar kemarin (13/7), di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Manager marketing PT Duta Graha Indah (DGI) Mohammad El Idris duduk sebagai terdakwa pertama yang disidang. Dari surat dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum (JPU), terungkap bahwa banyak pihak yang menerima suap dari pemenangan PT DGI.
Selain Sesmenpora nonaktif Wafid Muharam dan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhamad Nazaruddin, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin juga diaanggarkan sebagai penerima uang sebagai imbalan, karena telah berjasa mendapatkan proyek. Bahkan Ketua Komite Pembangunan Wisma Atlet berserta para pengurusnya juga mendapatkan uang.

“Bahwa dari hasil negosiasi terdakwa (Idris), Dudung Purwadi (Dirut PT DGI), Mindo Rosalina Manulang dan Nazaruddin, disepakati adanya pemberian uang dengan pembagian sebagai berikut: Nazaruddin 13 persen, Gubernur Sumatera Selatan 2,5 persen, Komite Pembangunan Wisma Atlet 2,5 persen, Panita Pengadaan 0,5 persen dan Sesmenpora Wafid Muharam 2 persen dari nilai kontrak,” tutur JPU pada KPK Agus Salim saat membacakan dakwaannya.

Seperti yang diketahui, nilai kontrak pembangunan wisma atlet yang disepakati PT DGI sebagai pihak pemenang kontrak sebesar Rp 191,67 miliar. Karena perbuatannya yang telah menyuap para penyelenggara negara tesebut, Idris didakwa primair dengan pasal 5 ayat 1 huruf b UU No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan dakwaan sekunder dengan pasal 13 UU No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor.

Dalam sidang kemarin juga diterangkan bahwa sekitar bulan Juni-Juli 2010 lalu, Idris bersama Dirut PT DGI Dudung Purwadi mengadakan pertemuan dengan Nazaruddin bertempat di kantor PT Anak Negeri Jalan Warung Buncit Raya No 27 Mampang Jaksel. Dalam pertemuan tersebut, PT DGI mengutarakan keinginannya bekerja sama dengan PT Anak Nageri yang dikenal memiliki jaringan kuat dalam pengadaan proyek-proyek di kementerian.

“Nazaruddin langsung memanggil Rosalina dan selanjutnya diminta untuk berhubungan dengan Rosalina untuk menindaklanjuti kerja sama tersebut,” tambah JPU.

Ternyata permintaan PT DGI tersebut langsung ditindaklanjuti PT Anak Negeri. Sekitar bulan Agustus 2010 di sebuah restoran di kawasan Senayan, Rosalina dan Nazaruddin mengadakan pertemuan dengan Sesmenpora Wafid. “Dalam pertemuan tersebut, Nazaruddin menyampaikan, jika ada proyek di Kemenpora agar PT DGI diikut sertakan,” imbuh Agus.

Sebulan kemudian, giliran Rosalina yang memperkenalkan Idris dan Dudung kepada Wafid dalam pertemuan ruang kerja Sesmenpora. Nah, disitulah Dudung meminta agar perusahaannya diberi kesempatan untuk berpartisipasi mengerjakan proyek pembangunan wisma atlet di Palembang.

Mendapatkan lampu hijau dari Wafid, Rosalina dan Dudung pun langsung bergerilya ke Palembang. Keduanya langsung melobi Ketua Komite Pembangunan Wisma Atlet Rizal Abdullah di Palembang. Mereka intensif mengadakan beberapa kali pertemuan hingga akhir 2010.

Akhirnya pada Desember 2010, PT DGI diumumkan sebagai pemenang proyek pembangunan wisma atlet. “Sebelumnya, terdakwa menawarkan fee 12 persen dari nilai kontrak kepada Nazaruddin selaku anggota DPR yang membantu pemenangan PT DGI. Namun Nazaruddin keberatan dan meminta 15 persen. Akhirnya disepakati 13 persen,” ucap Rachmat Supriady, anggota JPU yang lain.

Memenuhi janjinya, pada Februari 2011 Idris kembali ke kantor PT Anak Negeri dan menyerahkan cek senilai Rp 4,34 miliar untuk Nazaruddin. Namun janji untuk memberikan fee kepada Wafid belum juga direalisasikan. Hingga akhirnya pada bulan Maret Wafid meminta bantuan Rosalina agar menyampaikan permintaan terkait fee yang dijanjikan kepada Idris.

Akhirnya, bagian untuk Wafid baru diserahkan pada tanggal 21 April sore di kantor Sesmenpora. Saat itulah Idris, Rosalina dan Wafid langsung ditangkap KPK atas tuduhan melakukan tindakan penyuapan kepada penyelenggara negara.

Nah dalam dakwaan tersebut, KPK juga menyebutkan dengan jelas siapa saja yang menerima aliran uang pembangunan wisma atlet di antaranya adalah Ketua Komite Rizal Abdullah Rp 400 juta, Sekretaris Komite Musni Wijaya Rp 80 juta, Bendahara Komite Amir Faizol Rp 30 juta, Asisten Perencanaan Aminuddin Rp 30 juta, Asisten Administrasi dan Keuangan Irhamni Rp 20 juta, Asisten Pelaksana Fazadi Abdanie Rp 20 juta.

Selain ke pengurus komite uang suap juga mengalir ke para panita pengadaan barang dan jasa wisma atlet. Mereka adalah Ketua Panita M. Arifin Rp 50 juta. Sedangkan para anggotanya, Sahupi Rp 25 juta, Anwar 25 juta, Rusmadi Rp 50 juta, Sudarto Rp 25 juta, Darmayanti Rp 25 juta, Heri Melta Rp 25 juta.

Di bagian lain juru bicara KPK Johan Budi menegaskan pihaknya akan mendalami keterlibatan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin yang namanya dicatut sebagai pihak yang menerima fee sebesar 2,5 persen. “Kami akan mengembangkan semua informasi yang terungkap dalam persidangan para terdakwa kasus wisma atlet,” kata dia mantab.

Namun dia mengaku bahwa pihaknya sama sekali belum pernah memeriksa Alex sebelumnya. Nah, kata Johan, yang sebelumnya pernah diperiksa para penyidik yang terbang ke Palembang justru Ketua Komite yang juga Kepala Dinas PU Cipta Karya Sumsel Rizal Abdullah. “Yang jelas kami akan mendalami peran mereka,” tutur pria yang juga mendaftar sebagai pimpinan KPK itu.

Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin belum bisa dimintai konformasinya secara langsung karena menurut stafnya sedang berada di luar kota. Namun, orang nomor satu di Sumsel itu menyampaikan empat hal kepada Kepala Biro Humas dan Protokol, Robby Kurniawan SSTP MSi begitu mendapatkan informasi dikaitkan dalam kasus suap wisma atlit.

Robby memaparkan, Gubernur tak pernah minta jatah atau fee senilai 2,5 persen dari nilai proyek pembangunan wisma atlet Jakabaring. Gubernur menilai, pernyataan tersangka suap wisma atlet fitnah belaka dalam surat dakwaan merupakan fitnah belaka. “Gubernur Alex Noerdin tidak mengenal El Idris maupun Mindo Rosalina,”tegasnya.

Dikatakannya, fitnah seperti ini sudah menghampiri Gubernur Sumsel sejak masih menjabat sebagai Bupati Muba hingga sekarang sebagai Gubernur Sumsel. Soal tuduhan yang terungkap di persidangan itu, Robby mengatakan masih harus dibuktikan lagi. Karenanya, pernyataan terdakwa El Idris masih sebatas dugaan dan perlu pembuktian lebih lanjut.

Apakah akan menempuh proses hukum terkait fitnah itu? “Itu belum ditentukan, tunggu pak Gubernur kembali besok,”tukasnya.

Sementara itu, Asisten pelaksana pembangunan wisma atlet, Fazadi Afdanie mengaku memang ada uang yang ia terima dari Manager Marketing PT DGI Mohammad El Idris senilai Rp 20 juta.

Uang itu diterimanya 15 April lalu di ruang kerjanya, kantor Dinas PU CK Sumsel. Uang itu diantar sendiri oleh El Idris yang diantar seorang petugas lapangan pembangunan wisma atlet .

“Menurut pandangan kita, itu bukan suap. Tapi itu digunakan untuk biaya operasional dan pengawasan yang kami lakukan berbulan-bulan terhadap pembangunan wisma atlet ini. Mungkin, oleh pusat dianggap gratifikasi atau suap. Jadi, ada perbedaan sudut pandang pemberian uang itu antara kita di lapangan dan di pusat,” kata Fazadi.

Selaku koordinator pengawas pembangunan wisma atlet, ia mengaku tidak mendapatkan uang operasional. Jika dihitung secara proporsional, wajar jika untuk pengawasan pembangunan mendapatkan dana operasional Rp 400 juta.

”Namun nyatanya hingga sekarang dana itu tidak ada sepeserpun. Bagian pengawasan hanya mendapat uang makan Rp 10 ribu per hari,”bebernya. Lalu diberikanlah dana Rp 20 juta kepada dirinya, yang kemudian ia pergunakan untuk operasional pengawasan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) No 45/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Negara, poin 5 angka 2 huruf a, disebutkan bahwa pelaksanaan pembangunan bangunan negara harus mendapat biaya operasional.

Jumlahnya 35 persen dari total biaya pekerjaan atau sekitar Rp 700 juta karena proyek wisma atlet ini anggarannya sekitar Rp 200 miliar. Biaya operasional yang seharusnya dialokasikan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga ini sebelumnya pernah diajukan Ketua Komite Pembangunan wisma atlet, Rizal Abdullah. Angkanya sekitar Rp 700 juta. Tapi tidak ada kejelasan hingga sekarang.

Fazadi menambahkan, ia dan beberapa rekannya di PU CK telah mengembalikan uang yang diterima dari M El Idris saat mereka diperiksa sebagai saksi suap wisma atlet di kantor KPK, sekitar sebulan lalu. ”Saya siap hadir di sidang, karena memang saat diperiksa beberapa waktu lalu harus siap memberikan kesaksian,”cetusnya.

Koran ini juga telah berusaha mengkonfirmasi beberapa pejabat lain yang disebut-sebut ikut menerima suap kasus ini. Ketua Komite Pembangunan wisma atlet Rizal Abdullah tak ada di kantornya, Dinas PU Cipta Karya Sumsel.

Menurut informasi, dia sedang berada di Jakarta. Koran ini mencoba menelepon, tapi tidak diangkat. Sms yang dikirimkan juga tidak mendapatkan balasan. Sementara Sekretaris Komite Pembangunan yang juga Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumsel, Musni Wijaya tak berhasil dihubungi, ponsel genggamnya tidak aktif.

Di bagian lain, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mengatakan, perburuan terhadap Nazaruddin terus dilakukan. Pihaknya telah meminta perwakilan kantor imigrasi yang ada 19 negara untuk melakukan monitoring. “Kami tidak akan membentuk tim khusus untuk mencari Nazaruddin. Sebab, kami melihat kepolisian lebih optimis. Jadi buat apa kita kirim tim yang berbeda,” kata Patrialis di sela-sela pelaksanaan hari jadi Bhakti Adhyaksa di gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) kemarin (13/7).

Patrialis mengatakan, penangkapan Nazaruddin hanya soal waktu. Dia optimis dalam waktu dekat mantan bendahara umum Partai Demokrat itu akan bisa ditangkap. “Kami belum bisa menguasai paspor Nazaruddin karena keberadaannya masih tidak diketahui. Mungkin sebelum paspor dicabut dia sudah kemana-mana,” katanya.(jpnn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s