Kejari Makassar Ancam Jemput Pejabat Akpar Makassar

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM Kejaksaan Negeri Makassar berencana menjemput paksa dua tersangka korupsi Akademi Pariwisata (Akpar) Makassar, Abdul Rahman dan Andi Makakrau. Kejaksaan telah mengirimkan dua surat pemanggilan, namun hingga Jumat sore, mereka tidak muncul memenuhi panggilan itu.

Abdul Rahman menjabat sebagai Direktur Bidang Administrasi dan Umum Akpar Makassar, dan Andi Makakrau sebagai pemimpin PT Multi Sao Prima yang merupakan rekanan Akpar Makassar dalam proyek tersebut.

“Kami tak segan-segan akan menjemput paksa tersangka jika panggilan kedua untuk pekan mendatang, terperiksa tetap mengindahkan panggilan,”tegas Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Makassar, Joko B Darmawan, Jumat (6/5/2011).

Kendati penyidik kejaksaan berencana akan menjemput paksa para tersangka korupsi, namun Joko masih enggan menentukan secara pasti kapan pemanggilan pemeriksaan tersangka.

“Yang jelas 9 Mei mendatang penyidik akan melaporkan ke Pak Kajari prihal ketidakhadiran kedua tersangka saat diminta hadir untuk diperiksa beberapa waktu lalu,” ujarnya. Kedua orang ini mangkir pada pemanggilan pertama dengan alasan sakit.

Kepala Seksi Intelijen Kejari Makassar, M Syahran Rauf juga tidak menyebutkan kapan acara jemput paksa itu dilakukan. “Kami tinggal menunggu perintah Pak Kajari baru, Haruna, jika diperintahkan maka secara otomatis harus dilaksanakan,” tuturnya.

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga merugikan negara serta adanya unsur melawan hukum yang ditemukan penyidik kejaksaan. Mereka diduga menggelembungan harga barang yang diadakan berupa komputer dan sejumlah barang lainnya. Diketahui total anggaran proyek tersebut senilai Rp 1 miliar.

Dalam kasus itu nilai anggaran untuk pengadaan alat kantor saerta pendidikan di Akpar Makassar senilai Rp 1,4 miliar. Pekerjaan tersebut dilakukan 2009 lalu. Sedangkan mengenai kejanggalan yang ditemukan adalah berupa pengadaan televisi 29 inci dihargai Rp 9 juta, padahal penyidik menemukan harga di pasar hanya Rp 2 juta. Mesin penyejuk udara berkekuatan 5 PK dihargai Rp 24 juta, padahal di pasar hanya sekitar Rp 12 juta.

“Inilah salah satu bukti permulaan awal yang ditemukan penyidik sehingga keduanya ditetapkan sebagai tersangka,”ujar Syahran. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s